Abang Samad: Dari Sekolah Kecil, Menjaga Bahasa Madura Tetap Hidup
Di tengah derasnya arus budaya luar yang masuk ke dunia pendidikan, SDN Panaongan III memilih berdiri tegak menjaga jati diri. Melalui program unggulan “Abang Samad” (Aku Bangga Berbahasa Madura), sekolah ini membuktikan bahwa bahasa daerah bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang harus dirawat bersama.
Program Abang Samad telah berjalan sejak lama, bahkan jauh sebelum terbitnya Peraturan Bupati Sumenep Nomor 55 Tahun 2025 yang mewajibkan Bahasa Madura sebagai muatan lokal wajib di semua jenjang pendidikan. Peraturan yang berlaku sejak 16 Oktober 2025 tersebut semakin menguatkan langkah SDN Panaongan III dalam pelestarian Bahasa Madura.
Di sekolah ini, Bahasa Madura tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi dihidupkan dalam keseharian. Sejak pagi hari, siswa dibiasakan menggunakan Bahasa Madura saat datang ke sekolah. Mereka saling menyapa, bercakap, dan berinteraksi dengan penuh kesantunan.
Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd, menjadi teladan utama. Dengan balangkonnya yang khas, beliau konsisten menyapa siswa menggunakan Bahasa Madura halus, sekaligus membenarkan dengan santun jika ada penggunaan bahasa yang kurang tepat.
“Anak-anak itu akan meniru. Kalau gurunya bangga berbahasa Madura, siswanya juga akan bangga,”
(Agus Sugianto, S.Pd – Kepala SDN Panaongan III)
Komitmen pelestarian bahasa semakin kuat dengan adanya program “Ba’cateng” (Ngamba’ Kanca Dateng), yaitu budaya menyambut teman yang datang menggunakan Bahasa Madura. Program ini menjadikan Bahasa Madura sebagai bahasa pergaulan yang ramah, santun, dan membanggakan.
Salah satu guru SDN Panaongan III menyampaikan bahwa perubahan sikap siswa sangat terasa.
“Sekarang anak-anak lebih percaya diri berbahasa Madura, terutama bahasa halus. Mereka tidak malu lagi, justru bangga,”
(Salehodin Hr, S.Pd - Guru SDN Panaongan III)
Upaya tersebut berbuah prestasi. Dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten hingga Provinsi Jawa Timur, SDN Panaongan III kerap menorehkan hasil membanggakan. Pada tahun 2025, Sulaiman berhasil meraih Juara III FTBI tingkat Provinsi Jawa Timur.
Bagi siswa, Abang Samad bukan sekadar program sekolah, melainkan pengalaman berharga.
“Saya senang bisa lomba pakai bahasa Madura. Saya jadi tahu kalau bahasa Madura itu keren,”
(Sulaiman – Siswa SDN Panaongan III)
Melalui Abang Samad dan Ba’cateng, SDN Panaongan III tidak hanya mendidik siswa menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap bahasa dan budaya sendiri.
Dari sekolah kecil di Panaongan, Bahasa Madura terus hidup dituturkan dengan santun, dijaga dengan cinta, dan diwariskan dengan penuh kebanggaan.

.jpeg)
.jpeg)
Posting Komentar untuk "Abang Samad: Dari Sekolah Kecil, Menjaga Bahasa Madura Tetap Hidup"
Posting Komentar