TAGIGA: Dari Suara Siswa, Tumbuh Budaya Qur’ani di SDN Panaongan III
Sumenep, 16 September 2026 — Pagi hari di SDN Panaongan III kini memiliki suasana yang berbeda. Sejak sepekan terakhir, lantunan ayat suci Al-Qur’an tidak lagi hanya terdengar dari rekaman murotal para qari’ melalui pengeras suara sekolah. Suara itu kini datang langsung dari anak-anak Pantiga.
Secara bergiliran, siswa-siswi yang telah fasih membaca Al-Qur’an sesuai qiroah melantunkan ayat-ayat suci melalui pengeras suara sekolah. Lantunan tersebut mengiringi aktivitas pagi ketika para siswa mulai berdatangan ke sekolah.
Di saat yang sama, beberapa guru bersama tiga siswa berada di gerbang untuk menjalankan SASIDA (Sambut Siswa Datang). Mereka menyambut setiap siswa yang memasuki lingkungan sekolah. Dari kejauhan, suara teman-teman mereka yang sedang membaca Al-Qur’an terdengar mengisi suasana pagi.
Program tersebut kemudian diberi nama TAGIGA (Tadarus Pagi di Pantiga).
Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd, menjelaskan bahwa TAGIGA merupakan program keagamaan yang baru berjalan sekitar satu minggu. Namun, gagasan tersebut lahir dari sebuah momen sederhana dan spontan.
Menurut Agus, ide TAGIGA berasal dari Tenaga Kependidikan SDN Panaongan III, H. Sutikno. Ketika sedang menyapu ruangan kantor, muncul sebuah gagasan sederhana dalam pikirannya.
“Kenapa suara murotal dari mesin tidak diganti saja dengan suara siswa?” demikian gagasan yang kemudian langsung diwujudkan.
H. Sutikno selanjutnya mengajak beberapa siswa yang telah fasih membaca Al-Qur’an untuk mencoba mengisi suara melalui pengeras suara sekolah. Dari langkah sederhana itulah, sebuah kebiasaan baru mulai tumbuh dan akhirnya diberi nama TAGIGA.
Bagi SDN Panaongan III, TAGIGA bukan sekadar kegiatan membaca Al-Qur’an pada pagi hari. Program ini menjadi bagian dari upaya sekolah untuk memberikan ruang kepada siswa agar berani tampil, terbiasa membaca Al-Qur’an, dan menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
“Ketika anak-anak sendiri yang melantunkan Al-Qur’an, suasananya terasa berbeda. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut mengambil bagian dalam membangun budaya keagamaan di sekolah,” ujar Agus.
TAGIGA juga menjadi bagian dari ikhtiar SDN Panaongan III dalam memperkuat pembiasaan keagamaan yang telah berjalan secara rutin. Program tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan BAYAMA (Baca Yasin Bersama), PEMBASUH (Pembiasaan Baca Sifat Dua Puluh), serta JUMPAYASIN (Jumat Sapa Yatim dan Fakir Miskin).
Agus berharap TAGIGA dapat terus berkembang dan menjadi kebiasaan positif yang melekat dalam keseharian siswa.
“Semoga TAGIGA bukan hanya menjadi program, tetapi menjadi budaya. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan karakter yang baik, dekat dengan Al-Qur’an, dan memiliki kepedulian terhadap sesama,” harapnya.
Ada sesuatu yang sederhana tetapi bermakna dari TAGIGA.
Sebuah suara yang biasanya keluar dari rekaman, kini berganti menjadi suara anak-anak sendiri. Suara yang mungkin belum sempurna, tetapi lahir dari keberanian dan kemauan untuk belajar.
Dan setiap pagi, ketika suara itu menggema melalui pengeras suara sekolah, Pantiga seolah sedang mengajarkan satu hal kepada anak-anaknya: bahwa membangun budaya baik tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia cukup dimulai dari sebuah gagasan sederhana, sebuah keberanian, dan satu ayat yang dilantunkan dengan hati.
TAGIGA — Tadarus Pagi di Pantiga. Mengawali hari dengan Al-Qur’an, menumbuhkan karakter melalui pembiasaan.
.jpeg)
.jpeg)


Posting Komentar untuk "TAGIGA: Dari Suara Siswa, Tumbuh Budaya Qur’ani di SDN Panaongan III"
Posting Komentar